ROommate oh Roomateeeee

Roommate a.k.a teman sekamar, di dunia per kost-kost an kata ini bukanlah kata yang asing. Ini adalah sebuah kata yang sangat familiar. Memilih teman dalam berbagi ruangan serta privasi adalah hal yang gampang-gampang susah, kalo nemuin yang klop luar dalam tentunya menyenangkan dan menenangkan, selalu bersama dalam susah dan duka TAPI bagaimana kalo roommate kita adalah orang yang sangat amat menyebalkan? Pasti banyak yang beranggapan “ yah salah lo sendiri kenapa milih dia buat sekamar?” Atau ada juga yang berkomentar “kenapa ga cari tau dulu tentang calon teman sekamar lo, sebelum memutuskan untuk mengiyakan bekerja sama menanggung biaya kamar bersama alias PTPT”.
Menurut pengalaman saya yang telah beberapa kali berganti Roommate (dan sampai tulisan ini di buat, saya belum menemukan 1 pun yang klop) kedekatan atau pengenalan kita akan orang yang akan menjadi roommate kita tidak menjamin kita akan benar-benar cocok hidup bersama dengannya.
Tidak pernah terpikir dalam benak saya untuk berbagi kamar dengan orang lain, sampai akhirnya saya dengan terpaksa mengiyakan permintaan seorang teman kost yang meminta saya bersedia berbagi ruangan dengan adik perempuannya yang baru saja datang ke Jakarta, karena dia terlanjur memiliki teman kamar yang tidak mungkin di depak begitu saja. Dengan iming-iming keringanan membayar uang kost yang lebih sedikit (karena biaya kost yang biasanya di tanggulangi sendiri bisa dibagi 2, tadinya per bln nya saya membayar Rp 500.000 berkurang jadi Rp 250.000) serta rasa ketidak-enakan membuat saya mengiyakan karena bingung bagaimana menggungkapkan rasa keberatan saya. Akhirnya untuk pertama kali dalam hidupku berbagi kamar dengan orang yang baru saya kenal.
Dan kehidupan berbagi pun dimulai, dari perjanjian awal yang hanya berbagi kamar menjadi berbagi semua barang-barang seperti pakaian, sepatu, aksesoris dll. Dalam hal ini saya masih ok ok saja tapi kebiasaan teman sekamar saya tadi mulai mengusik kenyamanan saya, perasaan sama-sama memilki dan “BOLEH” memakai setiap barang yang ada di dalam kamar dengan seenaknya tanpa ijin pemiliknya (dalam hal ini saya) adalah mimpi buruk bagi saya . Untuk beberapa hal saya memang pelit dan lebih suka sendiri tapi jika teman baru saya tersebut meminta ijin dengan sopan, mengembalikan barang yang dipinjam ke tempatnya semula dan dalam keadaan utuh tentu saya dengan senang hati akan meminjamkannya. Tapi yang membuat saya murka, di suka lupa megembalikan bahkan langsung mengambilnya tanpa saya ketahui dan hasilnya, saya harus mengikhlaskan beberapa barang kesayangan saya raib entah kemana. Untungnya kebersamaan kami dalam satu kamar harus diakhiri karena kakaknya memutuskan pindah kamar dan mengajak adiknya untuk ikut sert *Horaaaaay!!!!
Dengan pengalaman pertama yang kurang menyenangkan, saya malah memutuskan untuk merger dengan teman sebelah kamar saya dengan pertimbangan yang tak lain tak bukan PENGHEMATAN semata (maklum mahasiswa hehehehe). Alasan lain yang membuat saya bersedia berbagi kamar dengan orang lain lagi karena teman saya kali ini adalah wanita yang umurnya jauh diatas saya tapi belum menikah, dengan usia yang bebeda tentunya selera berpakaian dan berpenampilan kami pun berbeda, jadi saya tidak perlu takut si kakak ini meminjam baju-baju serta perlengkapan saya (egois sih tapi ini karena trauma dengan roommate 1 saya).
Sayapun akhirnya pindah ke kamar yang baru dengan teman yang baru juga, so far so good. Kami berbagi dengan sangat adil dan manis, tapi lama kelamaan sifat lebih seniornya mulai terlihat, pembagian area kamar pun mulai tidak masuk akal, barang-barangnya hampir memonopli kamar bahkan untuk pembagian lemari saya hanya mendapat 1 bagian dari 3 bagian yang ada *nasib anak bawang  . Ada hal lain yang mulai mengurangi rasa nyaman saya, roommate ke-2 ku ini sering mendapat kunjungan dari kakak serta adiknya. Bisa kalian bayangkan berbagi kamar 3x4 cm2 yang hanya memiliki 1 tempat tidur yang cukup untuk 2 orang harus d isi dengan 3-4 orang tentu bukan lah hal yang menyenangkan. Sampai akhirnya salah satu sepupu saya memutuskan untuk nge-kost dan mengajak saya untuk tinggal bersama-sama, papa dan mama saya pun sangat setuju, saya pun demikian. Karena saya berpikir untuk apa berbagi kamar dengan orang lain yang tidak punya hubungan darah kalo bisa berbagi dengan sepupu sendiri, kami akhirnya pindah ke tempat kost yang lain.
Saat itu rasa bersyukur saya karena bisa tinggal dengan kakak sendiri tidak bisa digambarkan, bahagia karena dia sudah saya anggap seperti saudara kandung, dia juga koki yang handal sehingga kami tidak perlu membeli makan di luar. Dia juga seperti orangtua bagi saya hanya sayangnya sedekat apapun kami ternyata kami adalah dua wanita yang sangat berbeda dan tinggal bersama adalah keputusan yang buruk, kedekatan dan hubungan darah di antara kami tidak menjadi jaminan kami akan bertahan lama tinggal bersama-sama. Hal yang saya alami dengan roommate 1 terulang kembali, beberapa sifat saya juga tidak bisa diterimanya, satu kamar tidak membuat kami semakin dekat justru membuat kami separti orang asing. Puncaknya saat dia memutuskan untuk pindah mencari tempat tinggal yang baru :’(
Selepas perpisahan dengan kakak sepupuku, saya memutuskan untuk tinggal sendiri, dan belajar banyak bagaimana bertoleransi dengan roommate, berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari kegagalan mempunyai roommate. Sayapun memasang standar untuk calon roommate saya berikutnya yaitu, siapapun yang nanti akan tinggal dengan saya, ukuran badan dan kakinya tidak boleh sama dengan saya, demi menghindari kejadiaan bersama roommate 1 & 3 terulang ^^. Saya juga mulai bebenah diri dan merubah kebiasaan buruk saya yang mungkin membuat roommate saya yang terdahulu merasa tidak nyaman. Saya sadar bukan hanya kebiasaan buruk orang-orang tersebut yang membuat kamar terasa seperti neraka tapi sifat-sifat saya juga pasti punya andil dalam hal inni dan saya tidak mau jatuh di kesalahan yang sama *hehehhehe…

Singkat cerita, beberapa bulan setelah nyaman menikmati kamar sendiri, saya bertemu dengan roommate saya yang sekarang. Dia bukanlah orang baru dalam kehidupan saya, kami adalah teman semasa kecil dan kata mama sih kami masih saudara. Kami saling mengenal orangtua dan keluarga masing-masing dengan baik, hal inilah yang membuat saya berpikir saya mengenalnya sejak lama pasti tidak banyak penyesuaian yang begitu berarti. Mamanya pun begitu bersemangat dan mendukung hal ini, selain itu dia memenuhi kriteria roommate yang saya pasang “TIDAK MEMILIKI UKURAN TUBUH SERTA KAKI YANG SAMA”  dia memiliki tinggi 170 sedangkan saya 157, beratnya *mungkin 100kg* #pissss ^^ sementara saya? 50 kg saja hehehehe, ibarat jari, dia jari tengah dan saya kelingking soal ukuran kaki tidak perlu di tanyakan pasti berbeda jauh, jadi the A to the MAN a.k.a AMAN sodara-sodara ^o^
Sampai saat ini telah hampir 7 bulan kami berbagi kamar, memang hal-hal yang saya takutkan tidak / setidaknya belum terjadi tapi sifatnya yang kadang kurang peka dengan orang yang tinggal bersamanya kaddang membuat saya ingin pindah. Saat rumah (kami mengontrak rumah bukan hanya kamar) sudah dalam kondisi rapih setelah saya seharian mondar-mandir berbenah bisa tiba-tiba jadi berantakan saat dia pulang ke rumah, kebiasaan meletakan barang-barang tidak pada tempatnya membuat saya sakit kepala, bagaimana tidak coba anda bayangkan jika melihat bedak, lotion, sisir tiba-tiba bergabung di satu meja bersama roti, selai dsb, apa yang akan anda lakukan jika hal ini terjadi setiap pagi atau yang paling ekstrim, membiarkan panci yang berisi makanan seminggu yang lalu yang sudah berbelaatung? Jijik??? Inilah yang pernah saya alami, saat mencuci piring dia membiarkan panci yang harusnya juga ikut dicuci dan membiarkannya di bawah wastafel, sehingga saya tidak melihat panci itu sampai saya menemukan belatung-belatung kecil berserakan di dapur *yiakzzzzzzzzzz >.< Empat kali berganti roommate tapi sepertinya saya belum menemukan yang klop ataukah saya terlalu INTROVERT sehingga tidak sanggup berbagi dengan orang lain? Atau terlalu PERFECTIONISTkah saya? Sehingga setiap orang selalu terlihat salah dimata saya? ENTAHLAH! Yang jelas sampai saat ini Saya masih berusaha untuk berbagi kamar sampai sekarang dan terus berharap roommate saya yang ini bisa berubah, saya juga masih tetap berusaha memaklumi orang lain karena saya sadar saya pun punya banyak kekurangan. Hal berbagi (dalam hal ini KAMAR) adalah kegiatan yang membutuhkan 2 orang sebagai pelakunya dan harus ada timbal balik di dalamnya. Pelajaran yang saya dapat dari pergantian roommate adalah kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada orang lain tapi kita bisa belajar memahami bahwa perbedaan wajar karena tidak ada orang yang benar-benar cocok dalam segala hal  1 lagi, pelajaran PPKN yang sudah kita dapat di bangku SD berperan dalam hal ini #TENGGANGRASA. Semoga kita tidak lupa cara mengaplikasikannya ^^ SELAMAT MENCARI ROOMMATE YANG BENAR-BENAR PAS BAGI MEREKA YANG BELUM MENEMUKANNYA!!!! L.O.V.E vivia.ID

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cowok itu mirip Pembalut *ting*

Tempat Sampah Terbaik Sepanjang SMA

KAPAN SIH HARUS NGUCAPIN SELAMAT PASKAH???